Melihat Yang Tak Ada

Temanku mendapatkan pembagian ayam gratis 1 karton, 1 karton mungkin sekitar 10 kg. Hampir semuanya dibuat menjadi bakso! 

Akhirnya di suatu hari, aku bertemu dengannya dan mewawancarainya sepuasnya, setelah sebelumnya wawancara juga lewat whatsapp. Ini efek eksperimen buat bakso 3 kali dengan 3 resep berbeda pula dan hasilnya keras semua.

"Kok keras? Biasanya kalau gagal itu kelembekan" timpalnya.

Iapun dengan senang hati menjelaskan panjang lebar cara membuat bakso yang tanpa ditakar-takar dan hanya dengan menggunkan blender! Bukan penggiling daging.

Jadi daging ayamnya diiris-iris dulu, dibekuin setengah beku saja, baru masukin blender dan masukan air sedikit demi sedikit sekadar blendernya bisa berputar. Lalu masukan baskom. Kemudian blender telur dan bumbunya, gabung lagi dengan ayam di baskom dan tambah tepung tapioka sedikit demi sedikit sampai kalis.

MasyaAllah memang telaten dan kreatif 👍

Dan ternyata buatnya dari sore sampai sebelum/sesudah isya *lupa.

"Sampai nggak liat hp lagi" jelasnya, saking sibuknya.

Dan tebak berapa pentol jadinya?? Ratusan, kawan!!!! Gimana pegelnya yaaa masyaAllah.. Aku ragu antara 300 atau 600 pentol katanya. Ntar tanya lagi deh insyaAllah..

Dan 1 karton ayam itu habis hari itu juga, dibuat ratusan bakso dan ayam panggang.

Akupun menceritakan kisah temanku itu ke suamiku...

"Tuh kan dia saja bisa buat nggak pakai penggiling daging"

Iya masyaAllah.. Dan aku nunggu dibelikan penggiling daging dulu baru buat bakso.

"Abang lihat kamu selalu melihat apa yang nggak ada"

Tuing... 

Iya juga ya.. Akupun seperti tersadar dari lamunan panjang. Banyak sekali hal-hal yang ingin kulakukan berakhir angan-angan, hanya karena ada "sesuatu" yang kurang.

Benang buanyak, jarum rajut ada, tapi benang ada yang kurang takut nggak cukup, nggak jadi buat... *padahal bisa buat yang lain

Kain ada, benang jahit ada, mesin ada, nggak ada bias tape, mandek buat karya... *padahal bisa buat dengan teknik lain

Bahan martabak ada, nggak ada timun untuk acar, ragu mau buat... *padal colek sambel juga enak

Dan buanyak lagi kasus semisal.

Akupun merenung.. Benar apa yang dikatakan suamiku. Aku terlalu fokus pada sesuatu yang tak ada, sedangkan hampir semua sudah ada dalam genggaman. Pada akhirnya, tidak ada hasilnya, hanya sebagian atau bahkan sama sekali tak ada.

Akupun ingat, ketika berhadapan dengan sesuatu yang membuatku takut melangkah maju, aku terlalu takut, dan malah membayangkan kegagalan-kegagalan yang akan terjadi. Mentalku berujung ciut. Aku lupa, bahwa aku punya, punya Allah, di mana Allah lebih mencintai hambanya dari pada kedua orang tua mereka sekalipun. Seharusnya aku optimis, bahwa Allah akan membantuku, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya. Dan Allah sudah memberi semuanya, tubuh yang sehat, otak untuk berpikir. Jadi, apalagi yang ditakutkan?

Kalau kata cikguku, "Stop worrying of what could go wrong and focus on what could go right"

Terima kasih suamiku telah membuka mataku, lagi.



#PenaMilenialGen1

Di Balik Irisan Bawang


Subuh, ibuku sudah bangun dan menyiapkan segalanya. 

Siang, makanan lezat sudah siap di atas meja.

Di waktu-waktu tak menentu, ibuku bisa terlelap begitu cepatnya.

Malam menjelang tidur, piring gelas sudah berjejer bersih.  

Hal-hal itu dulu terlihat biasa di mataku yang masih duduk di bangku sekolah. Sehari-hari begitu-begitu.

Kini, tiba saatku melakukan semua hal yang dilakukan ibu. Namun ternyata hasilnya berbeda...

Subuh, aku masih berperang dengan kantuk yang sangat. Tak jarang suami yang membangunkan.

Siang, seringnya suami sudah pulang makanan belum lengkap tersedia.

Di waktu-waktu tak menentu, tahu-tahu aku bisa juga lelap tertidur.

Malam, piring gelas masih menunggu usapan sabun yang wangi, namun ku tinggal tidur..

Ternyata.. Hal-hal yang terlihat sepele itu tidak biasa.. Tetapi Luar Biasa..

Akhirnya aku menyadari bahwa yang dilakukan ibu bukan pekerjaan biasa. Butuh semangat dan perjuangan melawan keinginan untuk bersantai-santai saja sebagaimana masa gadis dulu demi lancarnya kehidupan suami dan anak-anaknya, bahkan itu dilakukannya dengan cinta.

Jika ibu tidak memasak sarapan, makan siang, makan malam, kami akan kelaparan. Lapar membuat konsentrasi susah terkendali. pekerjaan jadi tambah kacau. Belajar pun terganggu.

Perlahan mataku mulai terbuka.

Kini keheranan terhadap ibuku yang begitu cepatnya bisa terlelap dalam sekejap sudah terjawab. Ada lelah yang tak terlihat setelah sibuk di dapur, pikiran yang capek memikirkan "akan masak apa hari ini""akan belanja apa di pasar", belum lagi dadakan ditanya PR anak-anaknya yang harus dikumpulkan besok. 

Ibu, maafkan anakmu ini yang sering malas membantu pekerjaanmu...

Bicara tentang masak, ternyata masak belum berhasil memikat hatiku setelah menikah. Dari sebelum menikah, aku lebih suka makan, bukan masak. Mungkin bisa dibilang makan adalah hobi. Saking tidak tahu (dan jarang mau tahu) cara masak, sempat terpikir di benak saat makan tahu isi yang ku beli di kantin sekolah : bagaimana cara memasukkan isinya ini ke dalam tahu tanpa terlihat bekas robekannya??

Ternyata sampai menikah, memasak masih menjadi beban untukku. Aku heran sekali dengan orang-orang yang suka masak. 

Alhamdulillah suamiku dengan sabar menunggu kepulan asap di dapur reda jadi masakan siap saji dan tetap memakannya walau mungkin rasanya aduhai entahlah..

Sampai suatu saat, suamiku mencium bau-bau ketidaksukaanku memasak. 

        "Rubah mindset dong jadi suka masak, sama kayak kamu suka ngerajut" saran suamiku.

Ya, aku sukaaaaa sekali ngerajut. Sampai curi-curi waktu untuk ngerajut. 

        "Tapi gimana? Suka ngerajut itu ya tau-tau suka aja" jawabku. Aku suka ngerajut tanpa perlu merubah mindset, kesukaan itu muncul begitu saja, tak dipaksa.
        "Nah, itulah fungsinya agama, agama membungkus semuanya dengan pahala, semua yang kamu lakukan berpahala, itu menjadi penyemangat untuk masak. Ayo dong, rubah mindsetnya"

Pahala! Ternyata inilah yang sering ku lupakan. Sehari-hari terbangun dengan pikiran kusut akan masak apa dan tidak menikmati setiap bawang merah yang teriris pisau. 

Aku melupakan bahwa ada pahala besar yang menunggu dibalik tetes air mata karena pedasnya ngiris bawang, pahala di balik proses memasak makanan yang akan memanjakan lidah keluarga kecilku, dan dengan masakan itu, suamiku bisa berkerja dan belajar dengan baik. Anak bisa belajar dengan baik. Pahalapun mengalir untukku.

Ya, pahala. Pahala akan mengalir jika semua yang kulakukan mengharapkan ridhoNya. Mengapa aku sering melupakan janjiNya ini..

Benar-benar pengingat yang berharga untukku. Baiklaah,, Harus semangat! Semangat, Naas!! Ayo rubah mindsetmu! Kayaknya perlu tulis gede-gede tempel tembok, jadi pas bangun, terbaca : "pahala menunggumu hari ini" :)

#PenaMilenialGen1


Menawar Cadar


Hampir semua deretan hotel-hotel tinggi yang mengelilingi masjid nabawi, bagian bawahnya adalah toko-toko atau bahkan menyerupai mall. Toko emas, abaya, souvenir, oleh-oleh, makanan, dan berbagai macamnya. Jarang sepi karena yang mengunjungi masjid ini silih berganti dari berbagai negara. 

Di suatu senja, aku diajak suami ke masjid Nabawi. Seperti biasa kami berpisah karena tempat shalat laki dan perempuan berbeda. Suami mengizinkanku berkeliling toko-toko sendiri selepas shalat magrib. Akupun semangat dan asyik menjelajahinya. Karena shalat perempuan di bagian belakang, jadi aku keliling toko yang ada di belakang masjid Nabawi.

Aku melewati deretan toko abaya; pakaian hitam khas saudi. Ingin sekali membeli cadar. Setelah keberanian terkumpul, kaki berhenti di salah satu toko. Membuka satu persatu lembaran cadar yang tergantung. 
        "Kam?" Tanyaku pada penjual dengan bahasa arab setelah mendapat model yang pas di hati, yang artinya 'berapa?' 
        "Dua puluh" Jawabnya dengan bahasa Indonesia. Ha? Bagaimana ia tahu aku dari Indonesia? Padahal kain cadar juga sudah menutupi wajahku. Apa model cadarku khas Indonesia? Atau logatku saat ngomong ya?
        "Lima belas!" Tawarku entah dengan bahasa apa setelah itu. Penjual seperti berpikir sebentar.
        "Baiklah, lima belas"
Hatiku kegirangan. Diri yang tak biasa nawar ini berhasil nawar harga di negara orang! Langkahku setelah itu jadi berbeda. Lebih bahagia. Tak sabar rasanya ingin menceritakan prestasi hari itu pada suamiku.

Belum selesai langkah kaki melewati deratan toko bernuansa hitam, sesuatu muncul di benak. Pikiran untuk bertanya harga cadar di toko lain seperti yang terbeli muncul. Akupun berhenti di toko lain, membolak balik lembaran cadar mencari yang mirip dengan yang ku beli.

Ketemu!

        "Ini berapa?"
        "Lima belas.." jawab penjual.
Apaaaaaaaa.. Jadi tadi kena tipu? Seketika kegirangan tadi jadi terjun bebas menjadi kesedihan... Aku kena tipu.

Setelah berjumpa lagi dengan suami, ku ceritakan suka duka menawar cadar.
          "Cadar itu biasanya 10 real" timpalnya.

Jadi??? Aku ditipu 2 kali lipat??

(DIY) Vas Bunga Dari Botol Bekas

Sudah lama sekali membuat vas bunga ini, akhirnya ketulis juga sekarang di blog. Karena dihadiahkan 2 bunga mawar cantik ini dari kak Munirah, sayang sekali kalau nggak ada vasnya. Dan pas sekali belum punya vas di rumah. Jadi, dengan barang-barang yang ada di rumah, coba-coba buat vas dari botol bekas saus tomat! Botol saus tomat? Iya! Kenapa tidak?

Penasaran hasilnya gimana?

Yuk intip-intip siapa tau pengen buat juga hehe..




Langsung saja yaaa ke cara membuatnya :


Alat dan Bahan :

- Botol bekas saus atau sejenisnya
- Benang (aku menggunakan benang polyester karena.. Itu aja yang warnanya pas untuk vas hehee.. enaknya sih yang lebih tebal agar cepat jadi hihihi)
- Lem tembak
- Renda
- Gunting

Cara membuat :
1. Hilangkan kertas merek sausnya.
2. Dari ujung botol (bisa atas/ bawah), lem ujung benang, lalu lilitkan dengan rapat pada botol sambil dilem dengan lem tembak sedikit demi sedikit.


3. Hiasi vasmu dengan renda. Aku nyoba buat renda sendiri dengan dirajut. Karena lilitan benangku tidak rapi di bagian atas dan tengah, aku meletakan rendanya di sana.

4. Tadaaa jadi deh.. Mudah bukan??


Semoga bermanfaat yaa.. Ditunggu karyanya teman-teman 🌹

Sambil BerMedsos Minum Air



Sambil bermedsos minum air? Sambil menyelam minum air kaliii hehehe.. Pepatah yang mungkin sering kita dengar, yang berarti melakukan 2 atau 3 pekerjaan dalam satu waktu. Tentunya akan sangat menguntungkan jika kita mempraktekan pepatah "sambil menyelam minum air" dalam hidup kita, menghemat waktu dan waktu jadi begitu bernilai. 

Tentunya berselancar di media sosial (medsos), katakanlah seperti facebook, instagram, twitter, dan semisalnya sudah tidak asing lagi bagi penduduk bumi di zaman sekarang. Apalagi pembaca yang membaca tulisan ini, dipastikan 90% punya akun medsos. Mengapa? Blog saja tahu, masa medsos nggak tempe tahu  hehehe..

Semua hal memiliki manfaat dan sebaliknya kerugian, tergantung dari pemakainya. Ya, tergantung kita sang pemakai hal tersebut. Begitu juga media sosial yang sering kita gunakan. Kita bisa mendapat manfaat dari media sosial juga dapat tenggelam dalam kerugian.

Bicara manfaat, bagaimana jika kita mempraktekan "sambil menyelam minum air" di medsos? Apa bisa?

Coba deh beberapa cara mempraktekannya di bawah ini : 


1. BerMedsos dan Berbagi Manfaat
Mendapat pengalaman berharga hari ini? Mendapat hikmah dari kejadian-kejadian kemarin? Kenapa tidak dituangkan saja ke dalam tulisan dan dipost di dinding medsosmu? Siapa tahu banyak teman yang mendapat manfaat dari tulisanmu. Mulai dari yang sederhana saja. Mungkin kamu baru saja pulang jalan-jalan dari Banjarmasin. Kalau biasanya di medsos hanya upload foto-foto pemandangan dan caption seadanya,  cobalah untuk memberikan beberapa informasi-informasi di setiap foto, seperti harga tiket, lama perjalanan, hotel tempat menginap dan harganya, juga destinasi mana yang menurutmu recomended di Banjarmasin. Jadi upload sekalian memberi informasi bermanfaat bagi yang lainnya kalau-kalau ada teman di friendlist yang mau ke Banjarmasin juga. Oh iya, bisa juga hasil masakan hari ini, upload beserta resepnya agar teman-teman lain bisa praktek juga. Kita pun senang bila ada yang mencoba dan ternyata resep kita memanjakan lidah keluarga mereka. 

2. BerMedsos dan Belajar
Cobalah untuk megikuti akun-akun yang memberi manfaat, ilmu, atau berita yang benar, bukan hoax. Jadi, yang lewat di timeline kita nggak hanya status galau teman-teman kita hehehe.. Dan tentunya, kalau lewat dibaca, bukan menjadi penambah beban jempol untuk terus scroll down..  Setidaknya sehari ada ilmu yang kita dapat walau sedikit. Karena sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit.


3. BerMedsos dan Jualan
Berjualan di medsos? Kenapa tidak? Berjualan di media sosial bisa dilakukan oleh siapa saja. Coba saja dimulai dari karya-karya tanganmu sendiri (seperti rajutan) atau kalau suka desain bisa menawarkan jasa untuk desain. Apa saja. Biasanya bisnis yang dilakukan karena passion bisa lebih awet dan dilakukan dengan senang hati. Atau sudah punya toko? Atau toko keluarga? Coba saja dipromosikan di medsosmu! Rezeki siapa yang tahu. 

Dari info di katadata.co.id , Statistik Telekomunikasi Indonesia 2015 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan 82,05 persen penduduk usia lima tahun ke atas di perdesaan maupun perkotaan mengakses internet untuk keperluan bersosialisasi di dunia maya! Tentu ini peluang besar untuk mempromosikan produk di media sosial.

sumber : databoks.katadata.co.id

Jadi, tunggu apalagi? Mau coba jualan di medsos? 
Nah, Ini beberapa tips untuk berjualan di media sosial :

~ Belajar teknik jualan di sosmed
Nah, kalau sudah mantap hati dan serius mau bisnis lewat medsos, jangan tanggung-tanggung! Pelajarilah teknik marketing. Bisa dimulai dari yang gratis dengan membaca artikel-artikel yang beredar di internet. Dan untuk lebih mantapnya, bisa beli buku atau mengikuti seminar-seminar seputar bisnis online. Atau lebih lebih mantapnya lagi, belajar digital marketing langsung di Dumet School! Kursus ini bisa diikuti siapa saja, walaupun awam sekalipun! Coba saja langsung tengok infonya di sini (klik).


Ini nih yang didapat kalau belajar di Dumet School


~ Bangun kepercayaan calon pembeli
Tentunya calon pembeli yang akan membeli melalui jalur online akan berhati-hati dengan akun penipu. Maka dari itu, hal yang perlu dilakukan adalah membangun kepercayaan calon pembeli. Bisa dengan meng-upload testimoni pembeli sebelumnya, menyertakan alamat dan nomor telepon, dan kalau memang serius akan terjun di bisnis online, kenapa tidak membuat website resmi? Dengan menyertakan website resmi, kepercayaan pembeli  semakin bertambah. Kenapa? Domainnya kan bayar gitu lho hehehe.. 

Oh iya, di Dumet School kita juga bisa belajar buat website sendiri, tanpa perlu basic IT sama sekali! Membuat website sendiri tentu lebih banyak keuntungannya : kita bebas berkreasi, sesuai selera, atau bahkan bisa dijadikan bisnis lagi nanti : jasa pembuatan website! Betul atau betuul??

~ Sambil nulis status, minum air. Eh, promosi.
Sambil nulis status, siratkanlah promosi terselubung. Aku pernah ikut belajar bisnis online di sebuah grup whatsapp, salah satu trik untuk promosi adalah dengan tidak mempromosikannya langsung, tetapi secara tersirat. Siapa sih, yang suka dipromosiin. Iklan di TV saja langsung kita ganti kan hehehe.. begitu juga ngiklan di medsos. Begitu liat iklan, scroll down lagi deh hehe..

Mau tau caranya?

Caranya dengan bercerita. Misalnya "Wah, nggak nyangka hari ini sudah 20 orang yang beli bukuku!" Atau misalnya menceritakan testimoni teman "Tadi ketemu teman lama. Nggak nyangka dia pesen lagi tas rajut karyaku". Atau "Tadi pas jalan bareng adik pakai jilbab ini dan tetangga sampai tanya beli di mana.. katanya bagus kainnya" Dengan cara ini, pembaca akan penasaran. Sebagus apakah barang yang kita jual? Dan kotak inbox bisa terisi berbagai pertanyaan nanti. Tentu bukan dengan berbohong ya nulis statusnya teman-teman. Di sini kita harus melatih kreatifitas mengukir kata bagaimana agar calon pembeli tertarik dan penasaran dengan barang yang kita jual tanpa kita mempromosikannya secara langsung. Kalau masih penasaran dengan teknik menulis seperti ini, bisa googling dengan kata kunci covert selling.

~ Belajar teknik foto yang cantik 
Foto juga mengambil peran besar dalam memikat hati calon pembeli. Untuk mendapatkan hasil yang bagus, tak perlu ke studio dan kamera yang mahal. Cukup smartphone digenggamanmu (yang penting kamera nggak rusak ya!) dan ilmu memotret, seperti cara mengambil sudut yang bagus, mengatur pencahayaannya, juga belajar cara edit foto dengan aplikasi agar lebih cantik, bukan edit untuk menipu. Ini perlu belajar dan banyak latihan. Bisa belajar dari teman atau dari artikel yang banyak beredar di internet. Ketika akan foto produk, sertakan juga sesuatu yang menjadi identitasmu, seperti kartu pengenal diletakan di atas barang yang akan difoto. Ini akan menambah rasa percaya calon pembeli bahwa kita no tipu-tipu. 

~ Bersikap ramah dan cepat membalas pesan
Kalau bisa, segeralah balas pesan calon pembeli dan bersikap ramahlah agar pembeli nyaman untuk bertanya-tanya. 

~ Pantang menyerah, bersabar, dan bersyukur
Tentu semua butuh proses. Tekunlah untuk terus promosi dan melatih skill untuk mempromosikan barang. Bersabarlah jika menemui kesulitan dan bersyukur dengan apa yang didapat hari itu. Karena untuk menuju tempat yang indah harus melewati jalan yang berliku. 

Nah, itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mempraktekan pepatah "sambil menyelam minum air" ketika berMedsos. Saatnya menjadi pengguna sosial media yang bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Semoga bermanfaat. Selamat bersosial media dan jangan lupa minum air yaaa...

Menjaga Lahan Gambut, Menuju Indonesia Sejahtera


Indonesia, siapa yang tidak mengenal negara merah putih ini. Negara yang terkenal dengan keindahan dan kekayaan alamnya. Berbagai macam flora, fauna, segar hijaunya pemandangan, bahkan hutan kalimantan pun mendapat gelar paru-paru dunia. Tentunya hal ini merupakan hal yang patut disyukuri dan dilestarikan karena bermanfaat bagi seisi bumi pertiwi bahkan seluruh dunia. 

Bicara tentang hutan Indonesia, ingatkah dengan kebakaran hutan dan lahan yang menimpa Indonesia tahun 2015? Ternyata kebakaran itu menyebabkan lebih dari 120,000 penduduk terserang penyakit pernapasan, keanekaragaman hayati terancam seperti musnahnya fauna dan hilangnya habitat serta pangan bagi fauna, akses pendidikan terganggu karena ditutupnya sekolah, Kerugian finansial negara sebesar 220 triliun rupiah, dan epasnya emisi gas rumah kaca (GRK) yang hampir setara dengan total emisi harian GRK Amerika Serikat. Tentu hal ini sangat meresahkan.

Mengapa?

Sebagaimana informasi yang ditulis di pantaugambut.id, Emisi gas rumah kaca (GRK) dari kebakaran hutan dan lahan berkontribusi pada perubahan iklim. Perubahan iklim berpotensi menghambat pembangunan Indonesia, memperparah kemiskinan, dan menyebabkan berbagai masalah yang membahayakan kesehatan dan keamanan manusia, seperti menurunnya kualitas air, cuaca panas ekstrem, serta meningkatnya frekuensi banjir, kekeringan, dan badai.   

Lalu, kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk memperlambat perubahan iklim?

Tahukah pembaca, di antara kekayaan negeri kita ini, Indonesia mempunyai salah satu senjata sebagai solusi memperlambat perubahan iklim, yang mungkin tak banyak penduduk negeri mengenal dan mengetahui betapa penting perannya bagi bumi pertiwi bahkan dunia. Apakah itu? 

Gambut!

Ya, melindungi gambut adalah salah satu solusi untuk memperlambat laju perubahan iklim. Pada kebakaran tahun 2015 lalu, 52% lahan yang terbakar adalah lahan gambut. Padahal, perannya selama ini sangat penting dalam menyerap 75% karbon di dunia! Oleh karena itu, lahan gambut tidak boleh dibakar atau dikeringkan untuk dijadikan lahan perkebunan.

Jadi, sebenarnya, apa itu Gambut?

sumber : pantaugambut.id

Mungkin masih banyak yang belum mengetahuinya, termasuk kita, anak muda di zaman sekarang. Ayo kawan! Sudah saatnya kita semua melek dan peduli terhadap lingkungan kita. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Ayo kita kenalan dengan Gambut! 

Sepertinya kita semua sudah pernah mendapat pelajaran di mata pelajaran IPA tentang macam-macam tanah. Nah, tanah gambut adalah salah satu dari beragamnya jenis tanah di dunia. Gambut adalah hamparan yang terbentuk dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk. Karena itulah kandungan organiknya tinggi. Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal. Gambut umumnya ditemukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan sungai, maupun daerah pesisir. Gambut bisa berada di dataran rendah dan dataran tinggi. Sifat gambut lunak dan bila ditekan, air di dalam gambut bisa dipaksa keluar. Oh, iya, kata Gambut diserap dari bahasa banjar, lho

Lalu, apa saja manfaat gambut?


🌳 Gambut Menjaga Kestabilan Iklim 
Gambut menyimpan sepertiga cadangan karbon di dunia. Maka dari itu, ekosistem gambut memiliki peran dalam stabilnya iklim dunia dan memperlambat laju perubahan iklim. Beruntunglah, Indonesia adalah rumah bagi lahan gambut tropis terbesar di dunia! Wow! Luas lahan gambut di tanah air kita sekitar 14.9 juta hektar! Atau sedikit lebih luas dari pulau Jawa. Karbon yang disimpan lahan gambut di Indonesia juga tinggi, diperkirakan mencapai 22,5-43,5 gigaton karbon, setara dengan emisi yang dilepaskan 17-33 miliar mobil pribadi dalam 1 tahun! 

🌳 Gambut Mengurangi Dampak Buruk Bencana 
Bagaimana bisa? Karena tanah gambut memiliki kemampuan menyimpan air hingga 13 kali dari bobotnya. Menakjubkan bukan? Sehingga gambut memiliki peran penting dalam mengendalikan banjir saat musim hujan dan mengeluarkan air saat kemarau panjang. 


🌳 Gambut Menunjang Perekonomian Masyarakat Lokal 
Karena lahan gambut merupakan habitatnya sumber pangan kita seperti udang, ikan, dan kepiting yang menunjang kehidupan jutaan masyarakat Indonesia. Maka perusakan lahan gambut berarti mengganggu sumber penghidupan masyarakat lokal juga. 

Beberapa tanaman yang tidak mengganggu siklus air dalam ekosistem gambut pun bisa ditanami di lahan gambut, seperti jelutung, ramin, pulau rawa, gaharu, dan meranti. Kopi, nanas, dan kelapa juga tanaman yang ramah gambut dan mempunyai nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.

Untuk penjelasan lebih lengkap tentang lahan gambut, bisa dilihat pada vidio tentang pentingnya lahan gambut di bawah ini.

 

Sayangnya, lahan gambut sering dikeringkan lalu dialihfungsikan menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang kaya nilai ekonomi, namun tidak ramah gambut. 

Pengeringan lahan gambut akan mempercepat pembusukan bahan organik yang melepaskan karbondioksida (CO2) dalam prosesnya dan gambutpun menyusut. Dan untuk mencegah air kembali membanjiri gambut, lahan gambutpun di keringkan lagi dan proses pengeringan yang terus berlangsung ini mengeluarkan emisi CO2 secara terus menerus dan membuat lahan gambut rentan terbakar. 

sumber : pantaugambut.id
Tentunya akan sangat mengkhawatirkan bila lahan gambut semakin berkurang. Oleh karena itu, perlu kesadaran semua lapisan masyarakat untuk mempertahankan dan melindungi lahan gambut yang masih ada dan melakukan restorasi gambut, yaitu proses panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut; sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari menyusutnya lahan gambut. Dalam hal ini, presiden kita, bapak Joko Widodo mengambil tindakan tegas untuk merestorasi 2 juta hektar lahan gambut dalam 5 tahun! Waah.. Salut dengan presiden kita. Semoga komitmen ini tercapai dan berjalan dengan lancar ya.. 

Oh iya, fyi (for your information) kita bisa mengikuti terus berita perkembangan restorasi yang dilakukan pemerintah maupun pelaku lainnya dan belajar tentang gambut lebih banyak di PantauGambut lho, teman-teman! 


 Apa itu Pantau Gambut

pantaugambut.id
Pantau Gambut adalah wadah atau platform daring yang dibuat oleh anak-anak bangsa yang peduli terhadap gambut dan masa depan Indonesia. Platform yang mereka buat ini menyediakan akses terhadap informasi mengenai perkembangan kegiatan dan komitmen restorasi ekosistem gambut yang dilakukan oleh segenap pemangku kepentingan di Indonesia. Jadi kitapun bisa #PantauGambut Indonesia di sana. Di sana kita juga bisa belajar tentang gambut lebih jauh dan membaca pengalaman teman-teman kita yang observasi langsung ke lahan gambut. Kitapun dapat berbagi cerita tentang gambut di sana. Salut deh dengan tim Pantau Gambut! Mereka saja peduli, kitapun juga harus peduli dengan alam kita. 

Setelah mengenal gambut dan melihat semangat dan perhatian teman-teman sebangsa lainnya dalam melindungi gambut, semoga kita juga semakin sayang, peduli, dan menjaga gambut juga kekayaan alam lainnya untuk menciptakan Indonesia yang hijau, aman, dan lestari.


Menjaga Lahan Gambut, Menuju Indonesia Sejahtera! 


_______________________________
Sumber referensi utama : 
pantaugambut.id 
Sumber referensi lainnya : 
Wikipedia.org
sumber vidio :
https://www.youtube.com/watch?v=cq8J4DPQVhk

Eksperimen Buat Crochet Cardigan






Musim dingin memohon diri. Musim panas pun terbit. Saatnya mengemas baju-baju musim dingin agar tak memenuhi lemari. Sayang, jaket Hanin baru dipakai beberapa kali. Uminya sih, yang telat beli.. hehe..

Pengen buat cardigan rajut untuk Hanin untuk musim panas ini. Saat Hanin lahir (atau sebelumnya ya?) salah satu keluargaku membelikanku banyak benang. Katanya untukku membuatkan Hanin baju. Senangnyaa dapat benang. Terima kasih kak Munirah.. tetapi sampai Hanin memasuki umur 2 tahun 5 bulan benang-benang itu tak menjadi apa-apa untuk Hanin hiks.. Kelamaan mikir model, nunggu mood yang nggak jelas, dan malas sepertinya termasuk faktornya juga.


Ini dia benangnya,, benang Katun
Akhirnya, memasuki musim panas kemarin, mood dan semangat muncul tiba-tiba. Cari inspirasi di pinterest, akhirnya nemu model yang sepertinya dapat diterka cara buatnya. Ya, empunya foto tak memberikan polanya. Hanya beberapa foto step-by-step. Jadi bolak-balik lihat fotonya deh hehe.

Ini dia yang kutemui di pinterest

aku kolase fotonya, sumber pinterest, blog demismanostejidos.blogspot.com
Dulu, aku sempat penasaran bagaimana cara merajut cardigan yang ngerajutnya melingkar dan tau-tau ada lengan di tengah-tengah lingkaran. Mungkin ini sebabnya pas liat model ini di pinterest langsung excited sekali pengen langsung coba. Ternyata gitu tho polanya.. Sayangnya nggak ada pola tulisan. Jadi bermodalkan foto yang ada, bereksperimen ria deh dengan jarum dan benang. 

Semangat ini munculnya mendekati jam 12 malam ckckck.. Akhirnya tetap rajut terus pantang tiduuuuur..

Jadi pertama ngerajut bentuk segi lima. Aku ukur panjang sisi segi limanya dengan lebar punggung hanin. 

segi lima, panjang sisi sepanjang lebar punggung

Setelah selebar punggung Hanin, aku mulai membuat lengan dengan menambahkan rantai Setelah itu, lanjut lagi rajut melingkar, melingkari segi lima dan lubang lengan. 

membuat lengan


Lalu lanjut dengan shell stitch semua dan semakin lebar dengan penambahan rantai dan memperlebar ukuran shell stitch. Dibaris terakhir, aku ganti benang dengan warna putih.

Dilanjutkan dengan shell stitch

Setelah itu, membuat lengan. Hmm aku sempat bongkar pasang membuat lengan ini hehe.  Bingung. Lengan juga menggunakan shell stitch dan baris terakhir ganti benang putih.

membuat lengan dengan shell stitch

Setelah itu, membuat tali di depan. Buat rantai saja dan diujung buat beberapa double crochet.

membuat tali

 Daan jadiii Alhamdulillah ^^

Depan

Belakang
Namun sepertinya ada yang salah perkiraan. Kalau dipakai, bagian belakang agak ngembung hehehe.. Males ngulang hiks.. Tak apa lah yang penting jadi hehehe..

Maaf yaa teman-teman nggak ada polanya.. Entah kapan sempatnya kalau mau nulis pola. Tapi semoga dengan foto-foto yang ada ini bisa menginspirasi para perajut yang lainnya. Selamat bereksperimen dengan benang 💪