Tampilkan postingan dengan label Madinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madinah. Tampilkan semua postingan

Perjuangan Beli Ayam Goreng Al-Baik



Al-Baik


Ada yang pernah makan Al-Baik?

Sepertinya Al-Baik terkenal sekali ya sampai di Indonesiapun bisa dibela-belain jual ayam berbalut tepung ini. Ini favorit banget di Saudi. Yah, memang enak siiih masyaAllah. Selain enak, al-Baik terjangkau semua kalangan, harganya standar daripada fried chicken merek terkenal lainnya. Tapi kalau mau beliiiiii, antriannyaaaa masyaAllah sampai luar toko kayak difoto ini *kebetulan ini foto pas hari jum'at, hari libur di saudi jadi tambah rame.

Antriannyaaa sampai luar pintu ckckckk...
Gimana perjuangan beli ayam ini?Jadi kalau mau beli, kita antri di antrian yang panjaang cuma bilang mau pesan ini dan itu. Nanti dikasi struknya dan nomor antrian untuk ambil ayamnya. Dan antrian ambil ayam itu juga lamaaaa karna banyaknya yang beli. Ngantri 2 kali! Sampai ada yang berantem juga pas ngantri. Ckckck.. 

Selesai? Beluuum.. kalau mau makan ditempat, antri juga dooong hahaha. Biasanya  Jadi nungguin di deket org makan, nunggu mereka selesai makan. Hehe nggak enak ya lagi makan ditungguin orang. Jadi banyak juga yang beli lalu bawa pulang.

Isinya apa aja?

Ayam goreng berbalut tepung seperti fried chicken umumnya namun dengan rasa yang khas, sepertinya banyak juga rempah-rempah yang digunakan. Isinya 4 potong dari setengah ekor ayam (. Bisa pesan yang biasa atau yang pedas. Kalau pedas, di dalam ayamnya ada rasa pedasnya. Sayangnya aku tak pandai mendeskripsikan rasa hahaha *apalagi rasa dalam hatiku yg paling dalam. Pokoknya enak deh.. Angka 376 difoto di atas tadi sudah mendeskripsikan antrian yang pengen segera makan Al-Baik. Kayak antri sembako ya?

Oh iya, namun standar pedas orang Saudi beda ya nggak kayak orang Indonesia. Pedasnya Saudi nggak ada apa-apanya bagi lidah orang Indonesia. Jadi suami selalu beli yang pedas.

Isi satu paket Al-Baik, 13 real.
Lalu pelengkapnya ada kentang goreng. Ini 1 paket sama ayam, jadi nggak perlu beli kentang terpisah. Daan juga ada 1 roti bundar yang untuk burger ituu. Jadi makannya pakai roti ini. Untuk anda yang pecinta nasi, bawalah nasi sebelum makan al-Baik di tempat hehehe..

Oh iya, sausnya, selain diberi saus tomat, juga diberi saus bawang putih! Ya! Saus bawang putih. Baru pertama kali lihat saus bawang putih ya pas di sini. Apa ada ya di indonesia atau aku yang ketinggalan berita hehe.. Sayangnya nggak ada saus sambalnya.

Berapa harganya? 

Semua tadi 1 paket harganya 13 real baru-baru ini. Sebelumnya 12 real. Karena sekarang diberlakukan pajak, jadi naik 1 real.
Ada juga yang nuggetnya, harganya sama. Isinya 1 paket ada nugget 10 biji, kentang, dan roti 1, saus tomat, dan saus bawang putih. Tekstur ayamnya bukan seperti nugget beku yang biasa dijual, malah isinya daging ayam yang masih berserat-serat. Mungkin dibuat dari dada ayam semua ya dan dipotong kotak-kotak. Jadi rasanya seperti makan ayam asli juga.

Nugget Al-Baik, Kentang, Roti, dan Salad Malfuf
Biasanya kalau kami beli ayam al-Baik, suami juga memesan saladnya. Namanya Salad Malfuf. Walah hanya irisan kol dan wortel tapi enaaaaak bangeet masyaAllah hiks hiks gimana cara buatnya yaaaa.. Segar sekalii.. Hmm masyaAllah nikmatnya 👍 Ayam yang enak dimakan dengan salad yang segar. Hmmm... Harga saladnya 3 stengah real sepertinya sekarang.

Dijual di mana aja?

Al-Baik ini cuma ada di 3 kota, lho! Mekah, Madinah, dan Jeddah. Bahkan di Riyadh, Ibu kota Saudi pun tak ada. Kabar yang kudengar sih sengaja nggak dikasi buka cabang di kota lain mungkin takut menjatuhkan restoran lainnya hehehe masyaAllah. Tapi wallahu a'lam ya alasan sebenarnya..

Tapi emang kalau ada al-Baik, yang lain bisa nggak laku hehehe.. Karena tadi itu, rasanya enak nikmat dan harganya terjangkau sekali, kenyang pula.. InsyaAllah nggak rugi hehehe..

Kalau di Madinah, yang kutahu ada 4 lokasi penjualan Al-Baik. Di Depan masjid Nabawi, daerah Aziziyah, daerah Khalidiyah, dan 1 lagi di dekat bandara. Oh iya, di Rasyid Mall di daerah Rabwah juga ada, tapi hanya menjual yang nugget aja. Cuma jual yang nugget aja, restoran-restoran lainnya jadi terlihat sepi hihihi.. Di Mall lain sepertinya nggak ada.

Al-Baik yang dekat Masjid Nabawi
Nah, kalau umroh, bisa beli yang di dekat masjid Nabaw. Tapi deketnya ya lumayan jalan kakinya karena masjid nabawi besar dan posisinya di depan masjid, depan jalan raya. Sedangkan kalau kita sholat kan di belakang masjid. Jadi perjuangan jalan kaki ke sana. Ckckck memang perjuangan kalau mau beli ini. Kalau tidak salah yang lantai 1 khusus untuk laki-laki. Untuk keluarga/perempuan di lantai 2.

Sepertinya bakal kangen ayam ini nanti.. Semoga aja hanya kangen biasa, yang repot kalau sampai ngidam kan... hehehe..

Yaa itulah cerita tentang restoran 1 ini.. Ini bukan endorse dari al-Baik ya hiks hiks hiks.. Nggak perlu di endorse-endorse lagi, ngantrinya sudah seperti antri sembako..

Ada yang suka Al-Baik juga? Ditunggu kesannya yaa..




Melihat Yang Tak Ada

Temanku mendapatkan pembagian ayam gratis 1 karton, 1 karton mungkin sekitar 10 kg. Hampir semuanya dibuat menjadi bakso! 

Akhirnya di suatu hari, aku bertemu dengannya dan mewawancarainya sepuasnya, setelah sebelumnya wawancara juga lewat whatsapp. Ini efek eksperimen buat bakso 3 kali dengan 3 resep berbeda pula dan hasilnya keras semua.

"Kok keras? Biasanya kalau gagal itu kelembekan" timpalnya.

Iapun dengan senang hati menjelaskan panjang lebar cara membuat bakso yang tanpa ditakar-takar dan hanya dengan menggunkan blender! Bukan penggiling daging.

Jadi daging ayamnya diiris-iris dulu, dibekuin setengah beku saja, baru masukin blender dan masukan air sedikit demi sedikit sekadar blendernya bisa berputar. Lalu masukan baskom. Kemudian blender telur dan bumbunya, gabung lagi dengan ayam di baskom dan tambah tepung tapioka sedikit demi sedikit sampai kalis.

MasyaAllah memang telaten dan kreatif 👍

Dan ternyata buatnya dari sore sampai sebelum/sesudah isya *lupa.

"Sampai nggak liat hp lagi" jelasnya, saking sibuknya.

Dan tebak berapa pentol jadinya?? Ratusan, kawan!!!! Gimana pegelnya yaaa masyaAllah.. Aku ragu antara 300 atau 600 pentol katanya. Ntar tanya lagi deh insyaAllah..

Dan 1 karton ayam itu habis hari itu juga, dibuat ratusan bakso dan ayam panggang.

Akupun menceritakan kisah temanku itu ke suamiku...

"Tuh kan dia saja bisa buat nggak pakai penggiling daging"

Iya masyaAllah.. Dan aku nunggu dibelikan penggiling daging dulu baru buat bakso.

"Abang lihat kamu selalu melihat apa yang nggak ada"

Tuing... 

Iya juga ya.. Akupun seperti tersadar dari lamunan panjang. Banyak sekali hal-hal yang ingin kulakukan berakhir angan-angan, hanya karena ada "sesuatu" yang kurang.

Benang buanyak, jarum rajut ada, tapi benang ada yang kurang takut nggak cukup, nggak jadi buat... *padahal bisa buat yang lain

Kain ada, benang jahit ada, mesin ada, nggak ada bias tape, mandek buat karya... *padahal bisa buat dengan teknik lain

Bahan martabak ada, nggak ada timun untuk acar, ragu mau buat... *padal colek sambel juga enak

Dan buanyak lagi kasus semisal.

Akupun merenung.. Benar apa yang dikatakan suamiku. Aku terlalu fokus pada sesuatu yang tak ada, sedangkan hampir semua sudah ada dalam genggaman. Pada akhirnya, tidak ada hasilnya, hanya sebagian atau bahkan sama sekali tak ada.

Akupun ingat, ketika berhadapan dengan sesuatu yang membuatku takut melangkah maju, aku terlalu takut, dan malah membayangkan kegagalan-kegagalan yang akan terjadi. Mentalku berujung ciut. Aku lupa, bahwa aku punya, punya Allah, di mana Allah lebih mencintai hambanya dari pada kedua orang tua mereka sekalipun. Seharusnya aku optimis, bahwa Allah akan membantuku, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya. Dan Allah sudah memberi semuanya, tubuh yang sehat, otak untuk berpikir. Jadi, apalagi yang ditakutkan?

Kalau kata cikguku, "Stop worrying of what could go wrong and focus on what could go right"

Terima kasih suamiku telah membuka mataku, lagi.



#PenaMilenialGen1

Menawar Cadar


Hampir semua deretan hotel-hotel tinggi yang mengelilingi masjid nabawi, bagian bawahnya adalah toko-toko atau bahkan menyerupai mall. Toko emas, abaya, souvenir, oleh-oleh, makanan, dan berbagai macamnya. Jarang sepi karena yang mengunjungi masjid ini silih berganti dari berbagai negara. 

Di suatu senja, aku diajak suami ke masjid Nabawi. Seperti biasa kami berpisah karena tempat shalat laki dan perempuan berbeda. Suami mengizinkanku berkeliling toko-toko sendiri selepas shalat magrib. Akupun semangat dan asyik menjelajahinya. Karena shalat perempuan di bagian belakang, jadi aku keliling toko yang ada di belakang masjid Nabawi.

Aku melewati deretan toko abaya; pakaian hitam khas saudi. Ingin sekali membeli cadar. Setelah keberanian terkumpul, kaki berhenti di salah satu toko. Membuka satu persatu lembaran cadar yang tergantung. 
        "Kam?" Tanyaku pada penjual dengan bahasa arab setelah mendapat model yang pas di hati, yang artinya 'berapa?' 
        "Dua puluh" Jawabnya dengan bahasa Indonesia. Ha? Bagaimana ia tahu aku dari Indonesia? Padahal kain cadar juga sudah menutupi wajahku. Apa model cadarku khas Indonesia? Atau logatku saat ngomong ya?
        "Lima belas!" Tawarku entah dengan bahasa apa setelah itu. Penjual seperti berpikir sebentar.
        "Baiklah, lima belas"
Hatiku kegirangan. Diri yang tak biasa nawar ini berhasil nawar harga di negara orang! Langkahku setelah itu jadi berbeda. Lebih bahagia. Tak sabar rasanya ingin menceritakan prestasi hari itu pada suamiku.

Belum selesai langkah kaki melewati deratan toko bernuansa hitam, sesuatu muncul di benak. Pikiran untuk bertanya harga cadar di toko lain seperti yang terbeli muncul. Akupun berhenti di toko lain, membolak balik lembaran cadar mencari yang mirip dengan yang ku beli.

Ketemu!

        "Ini berapa?"
        "Lima belas.." jawab penjual.
Apaaaaaaaa.. Jadi tadi kena tipu? Seketika kegirangan tadi jadi terjun bebas menjadi kesedihan... Aku kena tipu.

Setelah berjumpa lagi dengan suami, ku ceritakan suka duka menawar cadar.
          "Cadar itu biasanya 10 real" timpalnya.

Jadi??? Aku ditipu 2 kali lipat??

(Family Time) Toko Khandaq dan Toko Buku Jarir


Tanggal 31 maret 2017 lalu, family time. Jazahullahu khairan untuk abinya Hanin. Family time sih tiap hari.. Di rumah juga family time kan namanya hehe.. Tapi family time kali ini menyenangkan. Karena kami pergi ke.....

Toko benaang 😍😍hihihiii.. *maklum perajut

Kami pergi ke toko Khandaq. *Sebenarnya aku sudah pernah menulis tentang toko ini sebelumnya. Tapi karena benang-benangnya sangat memikat hati jadi foto-foto lagi dan melengkapi foto yang belum ada di postingan yang dulu. Sekalian mengabadikan kenangan.

Toko Khandaq ini bukan toko benang saja. Di lantai pertama di jual berbagai macam alat tulis, alat melukis, clay, buku, mainan anak-anak, bunga hias, segala macam deh semua untuk kerajinan tangan kayaknya lengkap semua masyaAllah. Kami membeli kertas tebal *apa ya namanya. Rencananya untuk menghias dinding rumah. Semoga saja terlaksana. InsyaAllah kalau sudah jadi, akan ku tulis juga di sini. Lalu membeli buku tulis dan balon tiup untuk Hanin. 

Ini foto-foto di lantai pertama..
aneka lem dan clay. Dan itu tangga ke lantai 2

buku tulis
sepertinya kertas kado dan kotak hadiah
aneka bentuk styrofoam

tebelnyaa benangnya
Lalu naik ke lantai 2.. Surganya Benang 😍😍😍😍😍😍 Benangnya seger-segeeeerr masyaAllah kayaknya banyak yang baru datang. Nggak bisa sebentar kalau ke sana dan nggak bisa bawa uang dikit wkwkwk soalnya bisa laper mata di sana. Bingung mau beli benang yang mana karena bagus-bagus semua *haganya juga bagus hehehe.. Saking bingungnya sampai tokonya mau ditutup masih bingung mau beli yang mana. Namun apa daya, karena adzan isya akan dikumandangkan, toko harus segera tutup. Akhirnya kami segera membayar apa yang sudah ada di keranjang. 

Alhamdulillah punya benang baru 😍 Semoga saja semuanya habis terajut supaya ada alasan ke toko lagi nggak mubadzir. 

benang-benangnya tebel masyaAllah
banyak yaa masyaAllah
kain-kaiinn *mata ijo
Ada buku rajut bahasa arab!
Adzan Isya. Kami menyebrang jalan. Di sebrang toko Khandaq ada masjid Qiblatain. Alhamdulillah ada jembatan penyebrangan jadi aman, walau naik tangga lumayan tinggi. Tapi dari atas jembatan itu bisa melihat indahnya pemandangan kota Madinah di malam hari.
Jembatan penyebrangannya

Pemandangan dari atas jembatan
masjid Qiblatain
Di samping masjid ada taman kota. Hanin asyik sekali main di sana. Sudah berani naik ayunan dan prosotan. Ternyata ada kuda juga di sana. Sepertinya bayar kalau mau naik kuda. Juga banyak penjual-penjual makanan. Rame juga tamannya mungkin karena hari libur. 

Setelah puas bermain di taman, kami ke toko buku bernama Jarir. Di depan taman itu juga. Toko Jarir ini besar, mungkin seperti Gramedianya Indonesia lah. Dan isinya.... Mahal-mahal semua hehehee... Jadilah kami melihat-lihat saja dan berakhir di kasir dengan belanjaan seharga 6 real saja : 

Balon tiup lagi untuk Hanin hihihi.. 

Gimana lagi.. Buku tulis saja mahal sekali.. Lebih murah yang di Khandaq tadi hehee.. 

Daan inilah hasil belanjanya,,

*ketinggalan kertas tebel sama balon hanin nggak difoto hehehe
Ceritanya nyoba foto pakai kamera lagi setelah sekian lama kamera tak terpakai. Biasanya foto pakai hp aja. Ternyata memang beda hasilnya.

Jatuh cinta sama benang merk Alize, dari Turki. Memang bagus sekali. Tapi harganya juga bagus hehee,, Kalau nggak salah harganya 15 real 1 gulung. Sedangkan benang pink yang paling besar sendiri itu 12 real. Ya mungkin memang sesuai lah dengan kualitas. Tapi benang Alize bisa lebih mahal lagi di Indonesia. Hmmm,, Apa harus borong benang ya sebelum pulang hihihi,,

Alhamdulillah.. 😊




(Masak Bareng) Lontong Isi, Mie Ayam, dan Kunafah

Mie ayam. take by Kak Lida
Masak-masak lagii.. setelah sebelumnya buat macaroni schotel, brownies, dan pastel di rumah kak Lida, beberapa hari lalu (Kamis, 30 Maret 2017) kami masak lontong isi, mie ayam, dan kunafah. Kali ini masak di rumahku. Yang ikut masak-masak sama seperti masak-masak sebelumnya, tapi Aisyah nggak bisa hadir, sedangkan kak Humairo yang sebelumnya nggak bisa hadir kini ikut masak. Jadi berlima lagi masaknya.

Rencana mau buat lontong isi karena 2 bumils, Anggi dan Fadhilah suka sekali dengan lonton isi. Sempat ada kesalahpahaman diantara kita, Aisyah kirain lontong isi itu seperti yang pernah dia buat :

Lontong isi by Nur Aisyah

Ternyata lontong isi versi Anggi dan Fadhilah itu ini :

credit : tastemade

Dan Aisyah bilang itu arem-arem namanya hihihi... Aku juga taunya arem-arem 😄 Malah nggak tau lontong isi. Sepertinya itu memang lontong isi versi orang Jakarta. Karena arem-arem yang pernah ku makan isinya cuma daging ayam. Dan masalah selanjutnya : nggak ada daun pisang!

Akupun memberi saran untuk pakai kol saja. Sepertinya aku pernah lihat ada yang buat pepes ikan pakai kol. Akhirnya sepakat deh coba pakai kol.

Kami membuat lontong isi dengan resep dari tastemade. 
Isi lontong isi

Rasa isi lontongnya, hmm lumayan laah.. Untuk si hobi makan sepertiku ya enak-enak saja hehee.. Tinggal nasinya nih yang belum jadi-jadi. Nasinya pertama direbus dengan air, santan, serai, dan garam. Tapi hasilnya sepertinya masih kurang lembek.. Apa karena kami pakai beras basmati dari India sana ya hehe.. Karena bakal dikukus juga, kamipun berpikir tak apalah nanti juga bakal jadi lontong 😄

Kata Anggi ditengah-tengah perjuangan kami buat lontong isi : "ujung-ujungnya nanti juga (isinya) dimakan pakai nasi" 😅😅😅 

Tinggal kolnya nih.. Kolnya masih keras. Kak Humairo bilang coba di panaskan di atas api agar lemas. Tapi tetap kurang lemas juga. Akhirnya kami rebus dulu dan berhasil. Setelah di rebus, nyoba menyusun nasi dan isiannya, digulung,,,,, ternyata susaaah banget. Kolnya ada yang robek, ada yang kecil, bagian tengah kolnya terlalu tebal, macem-macem deh.. Akupun memberi saran untuk diikat dengan benang saja hahaha.. Tapi akhirnya teman-temanku mencoba ditusuk pakai tusuk gigi saja seperti membuat lontong asli. Ckckck butuh ketelatenan melipat kol di sini 😄 Yang khusyuk lipat gulung dengan telaten kak Humairo dan Fadhilah. Aku cuma bantu dikit aja hihihi.. dan inilah hasilnya.. 
Siap dikukuuss

Tinggal kukus deh.. Di resep tastemade ditulis direbus 1-2 jam. Tapi dividionya dikukus 😅 Ya kita ikut vidionya aja.. Tapi untuk 1-2 jamnya..... *mikir gas wkwkwkwk.. Entah berapa lama kami mengukusnya karena kami meninggalkannya sambil menikmati mie ayam yang sukses hehehe.. Setelah kupikir cukup lama kami mengukusnya, ku matikan api. Dan tak lama kemudian teman-temanku akan dijemput untuk pulang. Akhirnya langsung ambil lontong isinya dan karena penasaran kami buka dulu sebelum teman-teman pulang dan hasilnyaaaa..
Lontong Isi gagal

Tetap samaaa hahaha.. Nasinya nggak jadi lontong hehe.. Ternyata gagal pakai kol.. Bener deh kata Anggi, ujung-ujungnya makan pakai nasi hihihi.. Karena sisa nasi dan isi lontongnya juga masih banyak karena kolnya terbatas. Ada yang pernah nyoba buat selain pakai daun pisang nggak teman? Hmm tapi entahlah, masih adakah keinginan untuk buat ini lagi setelah kegagalan yang terjadi hehe..

Mie ayam. taken by Kak Lida
Masakan yang kedua, buat mie ayam. Jadi pas lagi nunggu nasi untuk lontong isi jadi, kami buat mie ayam. Resepnya dari kak Lida *belum minta lagi. Alhamdulillah hasilnya memuaskan walau nggak selezat yang dijual. 

Akhirnya malam itu perut kami terisi dengan mie ayam. Kunafah yang masih dioven pun sedang antri untuk disantap hihihi..

Lalu yang ketiga, buat kunafah. Alhamdulillah lumayanlah jadinya walau krim di dalamnya kurang kental. Sepertinya kurang maizena. Juga nggak disiram air gula karena kata dokter, bayinya Anggi berat jadi takut kebesaran pas mau lahir. Oh iya, resep kunafahnya pernah kutulis di sini yaa..
Kunafah

Begitulah cerita ibu-ibu muda belajar masak hihihi... Semangat belajar yaa ibu-ibu muda.. Semoga usaha kita memasakkan masakan untuk keluarga tercinta Allah balas dengan pahala aamiin..

Pameran Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam


Telat mau posting.. Pengennya langsung ditulis dan selesai setelah pulang dari pameran ini biar inget hehe.. tapi ternyata asa tak sampai...

Hari Jum'at, Tanggal 3 Februari 2017, Abinya Hanin mengajakku ke Masjid Nabawi karena mau hadir di dauroh seorang Syaikh yang cuma diadakan setahun sekali. Awalnya ragu juga, karena hari itu kota Madinah dingiiin banget. Pergi keluar itu bagai memasuki ruang berAC. Setelah bingung dan bimbang, akhirnya sore itu tetap keinginanku untuk pergi tak hengkang dari hati. 

Sebelum sampai di masjid Nabawi, abinya Hanin beli Tha'amiyah dulu dan teh panas. Teh panas dengan kepulan asapnya itu kubawa dengan senang hati dengan tangan telanjang tanpa kaus tangan. Teh itu menghangatkan tanganku menuju masjid Nabawi di dinginnya sore itu.

Sampai ke masjid, akhirnya teh panas pun menyerah dengan dinginnya udara luar. hihihi.. Cepat sekali.. Akhirnya kami makan Tha'amiyah dulu dan minum teh sembari menunggu adzan magrib berkumandang. 

Adzan Maghrib, kami berpisah. Abinya hanin menuju tempat shalat laki dan aku menuju tempat shalat perrmpuan. Setelah shalat, aku 
Ingin ke kamar mandi. Sebenarnya malas sekali ke sana karena pengalaman ke kamar mandi, antriannya lumayan panjang  juga ditambah bingung mau tinggal kereta bayi Hanin di mana. 

Namun rasa ingin kencing membulatkan tekad untuk menuju kamar mandi. Kereta Hanin ku letakkan di depan pintu umum menuju kamar mandi. Jadi kamar mandinya di bawah tanah. Ada dua pintu, turun dengan tangga menuju tingkatan pertama, pintu kedua dengan eskalator menuju tingkat kedua. Aku turun dengan eskalator. Awalnya hanin kugendong karena sepertinya takut dengan tangga berjalan itu. Namun akhirnya ku ajak dia menginjakkan kakinya di eskalator. Eh kesenengan akhirnya hehee..

Ternyata masih ada eskalator ke bawah lagi! Menuju tingkat ke 4. MasyaAllah baru tau ternyata kamar mandinya 4 lantai di bawah tanah. Di lantai 4 ternyata sepi Alhamdulillah.. langsung dapat tempat tanpa antri. Tempat wudhu juga ada di bawah sana. Tempat wudhunya ada kursinya, jadi enak wudhu sambil duduk dan bebas mau lepas jilbab dan abaya karena daerah khusus perempuan. 

Setelah wudhu, aku dan Hanin naik lagi ke atas dengan eskalator. Ckckck ada yang kesenengan naik eskalator hahaha.. sudah sampai lantai atas, Hanin mau turun lagi naik eskalator -,- karena tak ada kerjaan dan agar si kecil bahagia, akhirnya kami naik turun eskalator entah berapa kali hahaha.. Semoga saja tak ada yang memperhatikan hehe.. 

Oh iya, Alhamdulillah kereta hanin selamat nggak ada yang ambil.. Tetap saja harus berhati-hati ya teman karena walau di masjid Nabawi, pencuri ada saja.. Sepatu temanku pernah hilang padahal dibungkus di tas dan ditaruh rak sepatu. Pas mau pulang, Tasnya masih ada, namun sayang sepatu yang baru dibeli itu hilang.

Solat Isya, Hanin tertidur. Mungkin udara dingin ditambah suara imam yang merdu membuat matanya tak kuasa terpejam. Setelah selesai solat, aku jalan-jalan liat jualan di pinggir masjid  Nabawi. Setelah melihat-lihat tanpa ada yang terbeli, kepikir mau ke pameran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang ternyata buka karena sudah lama pameran ini ditutup. Mungkin tambah bagus dari yang sebelumnya. Langsung deh ke sana sebelum pamerannya tutup.

Ini diaa foto-foto di pameran..


Ini gedung Pamerannya dari depan

pintu masuknya

Silsilah Nabi Muhammad Shallallahu álaihi wa Sallam sampai ke Nabi Ibrahim Álahissalam

Ini apa ya.. hiks aku nggak baca sepertinya.

Kalau nggak salah, ini rute perjalanan hijrah Rasulullah Shallallahu Álaihi wa Sallam

miniatur masjid Rasulullah Shallallahu Álaihi wa Sallam

rumah Áisyah Radhiyallahu Ánha dan Saudah Radhiyallahu Ánha di samping masjid Nabi

Aktivitas Rasulullah Shallallahu Álaihi wa Sallam di pagi hari

Aktivitas Rasulullah Shallallahu Álaihi wa Sallam di pagi hari



Aktivitas Rasulullah Shallallahu Álaihi wa Sallam di pagi hari

Aktivitas Rasulullah Shallallahu Álaihi wa Sallam dari dzuhur hingga setelah Maghrib


Aktivitas Rasulullah Shallallahu Álaihi wa Sallam di malam hari


miniatur masjid Rasulullah Shallallahu Álaihi wa Sallam juga.

ini apa ya,, hehehe,, penjelasannya pakai bahasa arab..


Daftar peperangan yang diikuti Rasulullah Shallallahu Álaihi wa Sallam

ini dia daftarnya,, ternyata nggak kefoto yang nomor 1 & 2
perang badr


Ini belum semua teman-teman.. Pokoknya kalau umroh harus ke sini yaa. InsyaAllah banyak sekali pelajaran yang akan didapat (kecuali cuma liat-liat dan nggak dibaca ilmunya hehe) m. 

Keluar dari pameran, Hanin bangun dari tidurnya.. telat naak hihihi.. 

Pameranpun tutup. Sepertinya jam 9 malam. Aku dan si kecil Hanin jalan-jalan lagi melihat dagangan di sekitar masjid Nabawi.

Setelah lama jalan bersama Hanin dan dinginnya malam, kami menghangatkan diri dengan masuk ke Mall dekat masjid Nabawi dan mengisi perut dengan Tha'amiyah. Tak lama kemudian, handphoneku berdering, oh! Abinya Hanin sudah selesai dauroh. Akhirnya akupun berjalan ke satu tempat yang telah disepakati bersama abinya Hanin daan,, Pulang deh..

Kalau umroh, jangan lupa ke pameran ini yaaa.. Posisinya di samping masjid Nabawi, terlihat besar kok tulisannya.. seperi di foto pertama tadi. Di samping pameran ini juga ada pameran Asmaul Husna. Kalau di depan masjid, ada pameran al-Qur'an. Lengkap kaan? Jangan lupa ke sana yaa.. Gratis kok 😉