Aku, Sahabatku, dan Jilbab Besarku (1)


Alhamdulillah.. Segala puji bagi Allah atas nikmatnya Islam.. Kalau bukan karena bimbinganNya, mungkin aku tidak seperti sekarang ini.. Alhamdulillah sejak kecil keluargaku termasuk yang menjaga batasan-batasan agama. Setidaknya ayah ibuku ketat menjaga shalat anak-anaknya, harus pakai jilbab, melarangku pacaran sampai-sampai saat aku kelas 5 SD aku sudah diminta berjanji untuk tidak pacaran. Padahal dulu sampai mana ya pemahamanku tentang pacaran? *beda yaa zaman sekarang sama zaman duluu hehee


Ayah ibuku menjaga anak-anaknya untuk memakai jilbab. Tidak boleh lepas di depan selain mahram. Walau jilbabnya ya biasa-biasa saja, jilbab segitiga dan jilbab langsungan yang setidaknya menutup dada. Atau mungkin pernah tidak sampai menutup dada. Pokoknya nggak ketatlah peraturan harus sepanjang apa jilbabnya..

 Saat pertama masuk MTsN di Malang, saat semua masih imut-imut wajahnya dan aku tak kenal siapapun di kelasku, kecuali 1 orang, karena dia dulu 1 kelas denganku saat SD. Saat SD pun aku tak akrab dengannya. Tetapi karena aku dan dia tak mengenal siapa-siapa, jadilah aku duduk bersamanya dan pada akhirnya kami akrab dan bersahabat. Sahabatku ini baik, lugu, dan mungkin paling alim di kelas (alim bahasa indonesia ya bukan bahasa arab hehe). Yaaa alimnya standar anak-anaklah hehehe.. Kenapa aku katakan dia alim? Karena dia sering mengajakku puasa senin kamis. Aku kagum padanya. Hubunganku dengannya baik dan kami jadi puasa senin kamis bersama. Kemana-mana bersama... Pergi ke perpustakaan daerah bersama.. Sama-sama deh pokoknya.. 

 Alhamdulillah lingkunganku juga baik. 2 pamanku dari ibu lulusan pondok dan sekolah di Lipia. Aku jadi sering bertanya-tanya tentang masalah agama dan mulai mengerti banyak hal. Hal-hal yang tidak kudapatkan di MTs. Alhamdulillah Allah menjagaku juga dari pergaulan bebas. Aku jadi lebih berhati-hati. Ditambah sahabatku yang rajin puasa ini. Juga di MTs aku mengikuti organisasi Remas (remaja masjid) sekolah bagian buat mading. Jadi banyak baca majalah islami. Alhamdulillah nikmat yang sangat besar untukku saat itu. 

Ketika kami naik kelas 3, akhirnya kami sekelas lagi. Kami berpisah saat kelas 2. Entah saat kelas 2 atau 3 *aku lupa, sahabatku mengeluhkan ibunya yang memaksanya untuk memakai jilbab besar ke sekolah. Ia bercerita bahwa ibunya kini sudah bercadar dan ia harus memakai jilbab besar ke sekolah. Di Mts jilbabnya memang standar saja panjangnya: kain kotak dilipat segitiga yang alhamdulillah masih menutup dada dan 1 baju orange khas MTs yang jilbabnya pas-pasan menutup dada yang meragukan. Dan ibunya memaksanya untuk mengenakan yang lebih panjang lagi dari itu. Sahabatku ini tidak mau. Ya mungkin malu.. Karena akan aneh sendiri bukan kalau sendirian berjilbab panjang? Akhirnya aku bersedia menemaninya memakai jilbab panjang.... 

Kumulai hari-hariku ke sekolah dengan melipat kain kotak itu tidak saling bertemu antar ujung satu dengan yang lainnya agar lebih panjang untuk menemani sahabatku berjilbab panjang di sekolah. Hari demi hari terlewati, dan alhamdulillah seingatku tidak ada teman-teman yang mengejekku atau sekedar bertanya mengapa jilbabku semakin panjang. Tinggal seragam khas MTs yang tidak bisa ku apa-apakan karena bentuknya jilbab langsung pakai. Hal tak terduga terjadi. Sahabatku berhenti memakai jilbab panjang. Sepertinya ia masih malu. Jadi saat berangkat ke sekolah, ia kenakan jilbab panjangnya dan sesampainya di sekolah langsung ke kamar mandi dan memendekkan jilbabnya seperti teman-teman lainnya. Tinggal aku sendiri bersama angin yang berhembus... Teganya kamu sahabatkuu hiks hiks.. Aku harus bagaimana? Aku lebih malu lagi jika harus memendekkan jilbabku setelah memanjangkannya. Hmm.. Akhirnya aku tetap bertahan dengan jilbab panjangku.. Dan sahabatku kembali ke jilbab MTs yang dulu..

Kesedihanku datang lagi.. Saat kelas 3, ada tugas kelompok pelajaran IPS, temanku, laki-laki, sebut saja X, mengirimkan sms dan meminta nomor sahabatku. Alasannya karena dia sekelompok dengan sahabatku dan perlu sms. Mungkin untuk diskusi tugas mereka. Akhirnya kuberikan. Dan lama.... Hari-hari kami seperti biasa.. Sampai suatu hari sahabatku dan beberapa teman akrabku yang lainnya tertawa dan seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Akhirnya mereka memberitahu juga. Ternyata sahabatku sudah berpacaran dengan X. Betapa kesalnya aku dan kaget. Ku lihat X dan dia hanya senyum-senyum saja. Lalu aku harus bilang apa? Selamat? Di saat teman-temanku yang lainnya senang dan menggoda sahabatku, sepertinya hanya aku yang tidak setuju dengan hubungan mereka. Ya, ini MTs.. Pacaran sudah menjadi hal yang biasa di sini. Aku yang masih miskin ilmu ini tak bisa berbuat apa-apa... 

 Bersambung...

4 Orang Komen:

  1. Kk suka quotenya "aku sendiri bersama angin yang berhembus" hehe...iya sedih pastinya ya tapi insyaAllah kalau kita terus menasihati gk ada yg gk mungkin jika kehendak Allah..hidayah dari Allah...nggak sabar nunggu lanjutannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi mba Selma 😄 Iya mba tapi dulu kayaknya ana nggak nasehatin juga.. Masi nggak berani atau nggak enakan kayaknya 😄 Iya insyaAllah.. Jazakillahu khairan kunjungannya mba Selma 😊

      Hapus
  2. Ak sampe sekarang blm pernah pacaran nas, apa tuhan masih nyembunyiin jodohku yak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaAllah sudah ditulis di lauhul mahfudz tri 😊 Pertahankan tri jangan pacaran 👍👍👍

      Hapus

Terima kasih sudah membaca dan juga komentarnya yang meramaikan blog ini 😊 (Yang belum punya akun blog, bisa pilih 'anonim' untuk berkomentar dan jangan lupa sertakan nama ya 💐